Tope Le’leng dan Passapu, Cinderamata Khas Kajang

Tanah adat Kajang menjadi salah satu destinasi wisata budaya Kabupaten Bulukumba yang dikenal hingga ke mancanegara. Dalam kawasan adat Tanah Toa yang disebut ilalang embayya ini segalanya masih tradisional.

Saat berwisata ke tempat ini, pengunjung harus mengenakan pakaian hitam dan berjalan tanpa alas kaki sebagai bentuk penghargaan atas tradisi yang masih dijaga secara turun temurun oleh Suku Kajang yang dipimpin oleh Amma Toa. Pakaian adat yang dikenakan masyarakat Kajang tersebut berupa tope le’leng atau sarung hitam serta penutup kepala khusus pria berupa passapu.

Pakaian khas tersebut merupakaan hasil kerajinan masyarakat Kajang. Berupa benang putih yang dihitamkan dengan tarung (jenis tanaman) kemudian ditenun secara tradisional. Salah satu yang membuat masyarakat Kajang terkenal adalah cara melestarikan hutan dengan aturan adat yang ketat. Itu sebabnya, kawasan adat ini begitu rindang dan sumber airnya tidak pernah kering meskipun kemarau.


Nah, kalau anda berwisata ke Kajang, rasanya tidak lengkap jika tidak membawa pulang apa yang menjadi cinderamata khas Kajang ini. Ada sarung hitam, ada penutup kepala dan kini sejumlah pengusaha rumahan juga membuat syal dari kain hitam yang ditenun secara tradisional ini. Hanya saja bagi sejumlah wisatawan, harga sarung hitam mungkin cukup merogoh kocek dengan harganya Rp 1 juta. Sedangkan harga syal dan penutup kepala dikisaran Rp 250 ribu per lembar hingga Rp 400 ribu per lemar. (Anjar Masiga)

Kajang Passapu Tope Le’leng